Selasa, 15 Desember 2015

PENGELOLAHAN HAMA PENGERAK BATANG PADA TANAMAN KAKAO

 MAKALA  ILMIAH :

PENGELOLAHAN HAMA
PENGGEREK BATANG (Zeuzera coffeae )
PADA TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao)


Oleh :
Aser. Y. K. Nerotouw
04311311049


PROGRAM STUDIN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE
2015
                                                                      BAB I
PENDAHULUAN

1.1.            Latar  Belakang
Cokelat adalah sebutan untuk makanan yang diolah dari biji kakao. Cokelat umumnya diberikan sebagai hadiah atau bingkisan di hari raya. Cokelat juga telah menjadi salah satu rasa yang paling populer di dunia, selain sebagai cokelat batangan yang paling umum dikonsumsi, cokelat juga menjadi bahan minuman hangat dan dingin.  Perkebunan kakao skala besar atau perkebunan rakyat, pernah terjadi serangan penyakit tanaman. Pada seluruh bagian tanaman kakao mulai dari akar, batang, daun , buah dapat diserang penyakit.
Usaha penanganan penyakit yang menyerang kakao tidak hanya jenis penyakitnya yang perlu diperhatikan, tetapi juga lingkungan serta tanaman inang alternatifnya juga harus diperhatikan. Salah satu factor lingkungan yang paling berpengaruh adalah curah hujan, kelembaban, dan suhu. Apabila tanaman mengalami kerusakan akibat penyakit, tindakan yang dilakukan adalah melakukan diagnosis. Tindakan ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk melakukan pengendalian. Apabila ada serangan suatu penyakit yang kurang merugikan belum perlu dikendalika, tetapi tetap perlu diperhatikan, karena suatu serangan penyakit yang kurang merugikan ini daya merusaknya bias meningkat jika mendapat inang yang rentan dan kondisi lingkungan yang mendukung.

            Penanganan serangan penyakit bisa dilakukan dengan memadukan beberapa teknik yang sesuai. Tujuannya untuk mengurangi kegagalan dan menjaga kelestarian lingkungan. Berdasarkan diagnosis yang tepat, pengetahuan epidemiologi (laju pertumbuhan penyakit), dan kerusakan yang ditimbulkan oleh penyakit, maka dapat disusun suatu strategi penanganan yang efektif dan efisien. Berikut akan dibahas beberapa penyakit yang menyeang tanaman kakao.





1.2.            Permasalahan
A.    Bagaimana Mengetahui Teknik pengendalian Hama Penggerek Batang/Cabang  Kakao (Zeuzera coffeae) pada tanaman kakao
B.     Bagaimana Mengendalikan Hama Penggerek Batang  (Zeuzera coffeae)

1.3.            Tujuan
A.    Mengenali Hama Penggerek Batang Kakao dikalangan Mahasiswa Pertania
B.     Untuk mengetahui bioekologi dari Penggerek Batang / cabang (Zeuzera coffeae) pada tanaman kakao.
C.     Menambah kepekaan mahasiswa petanian dalam pengenalan gejala hama
























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hama Penggerek Batang  (Zeuzera coffeae)  Kakao

Klasifikasi  Zeuzera coffeae  menurut Kalshoven (1981) sebagai berikut :
            Kingdom : Animalia
Divisi : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Famili : Cossidae
Genus : Zeuzera
             Spesies : Zeuzera coffeae
Serangga dewasa berupa kupu - kupu dengan sayap depan berbintik - bintik tebal berwarna hitam, di bagian atas berwarna putih tembus pandang. Telur berbentuk oval berwarna kuning pucat dan diletakkan secara berkelompok di permukaan batang atau cabang. Di bagian tubuh ke arah kepala, kepompong berwarna coklat tua, serta di bagian ekor dan perut berwarna coklat muda  (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia 2008).
2.2. Siklus hidup Hama Penggerek Batang  (Zeuzera coffeae)
Imago serangga zeuzera yang aktif pada malam hari (nokturnal) ini bertelur selama 6 sd 8 kali sehari, sedangkan periode bertelurnya berlangsung 5 sd 6 hari. Imago betina dapat memproduksi telur sebanyak 500 sd 1.000 butir selama masa hidupnya. Telur biasanya diletakan di celah kulit-kulit pohon yang membuka. Telur zeuzera dapat diidentifikasi dari dimensinya yakni panjang 1 mm, lebar 0,5 mm, dan berwarna kuning kemerah-merahan.
Telur biasanya menetas menjadi ulat penggerek batang setelah10 sd 11 hari setelah diletakan. Ulat berwarna merah cerah dengan panjang 3 sd 5 mm. Ulat tersebut dapat menggerek cabang bahkan batang tanaman dan menyebabkan cabang atau batang yang terserang menjadi kopong dan menyisakan sedikit lapisan xilem dan floemnya saja. Ulat tersebut sering berpindah dari satu lubang gerekan ke bagian cabang atau batang lainnya untuk membuat gerekan baru. Liang gerekan dibuat umumnya sedalam 40 sd 50 cm dengan diameter liang sekitar 1 sd 1,2 cm.  Tiap liang gerekan umumnya ditinggali oleh satu ekor ulat saja.
Ulat bermetamorfosis menjadi kepompong umumnya pada usia 81 sd 151 hari setelah ditetaskan. Ulat berkepompong di dalam kamar kepompong yang panjangnya 7 sd 12 cm yang dibuat dalam liang gerekan. Liang gerekan ketim ulat tengah berada pada fase kepompong umumnya ditutup bagian atas dan bawahnya menggunakan kotoran atau sisa gerekan.
Kepompong menjadi ngengat (imago) setelah 21 sd 30 hari setelah dimulainya fase kepompong. Untuk menjadi ngengat jantan, lama stadium kepompong memerlukan waktu 27 sd 30 hari, sedangkan untuk menjadi ngengat betika memerlukan waktu 21 sd 23 hari. Imago keluar dari liang gerekan dan kamar kepompong dengan meninggalkan kulit kepompong pada liang gerekan. Imago ini kemudian meneruskan siklus hidupnya dengan meletakan telurnya pada tanaman kakao lainnya. Hama ini juga dapat menginang pada beberapa tanaman selain kakao, seperti bungur, jati, mahoni, randu, jambu biji, kopi, dan kina.

Gamabar 1. Siklus hidup

2.3. Faktor-Faktor yang mempengarui  Gejala Serangan Hama Zeuzera sp
Larva dari serangga ini menggerek cabang-cabang tanaman kakao yang bergaris tengah sekitar 3-5 cm. Larva penggerek menyerang cabang tanaman kakao dengan cara menggerek batang pada kulit sekunder, sehingga cabang bagian atas mati atau mudah patah. Serangan pada cabang muda, pada umumnya hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan sementara. Jika Larva itu telah keluar, batang tersebut tumbuh normal kembali. Serangan hama ini ditandai dengan adanya kotoran yang membentuk silindrik dan berwarna merah sawo matang yang dikeluarkan melalui liang gerek. Akibat dari serangan penggerek ini tanaman kakao kehilangan sebagian dari cabang-cabangnya yang produktif. Bahkan jika menyerang batang utama yang masih muda dapat mematikan tanaman budidaya (Sunanto, 2000).
Pada stadia larva dapat menyebabkan serangan penggerek batang merah. Hama Larva ini merusak bagian batang dengan cara menggerek menuju empelur (xylem) batang atau cabang. Menyerang tanaman muda. Pada permukaan batang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan serpihan jaringan. Bila cabang terserang dipotong dan dibelah, akan Nampak lubang gerekan masuk melintang cabang, kemudian membelok kea rah pucuk membentuk terowongan-gerekan yang panjang. Akibat serangan larva penggerek batang merah ini, bagian tanaman di atas lubang gerekan akan merana, layu, kering, dan mati, sehingga menyebabkan distribusi hara dan air terganggu (Ratmawati, 2002). 
Serangan Zeuzera sp. Menyebabkan daun mengalami nekrosis dan pucuk pada tanaman dewasa akan mati. Serangannya terutama pada cabang-cabang muda yang lembek, misalnya di sudut tangkai daun. Larva Zeuzera sp. Akan melubangi kulit kayu kemudian Larva masuk kedalamnya dan merusak berkas pembuluhnya. Larva ini dikayu mampu menggerek sampai dengan 9-30 cm dan mengeluarkan sisa gerekan berupa serbuk kayu bercampur lender. Cabang yang diserang mengalami kekeringan dan lentiselnya akan membesar sehingga akhirnya kulit kayunya retak dan pecah (Siregar, 2000).

Pengendalian Hama Zeuzera sp
-          Secara Mekanis
Batang tanaman kakao yang terserang dipotong 10 cm dibawah lubang gerak kearah pangkal batang kemudian batang dibakar diluar kebun (Hidayat, 2008). Pengendalian dapat juga dilakukan dengan cara menyumbat liang-liang gerek dengan kapas yang telah dicelupkan dalam insektisida (Sunanto, 2000)
-          Biologis
Dengan musuh alami sejenis parasitoid : Bracon zeuzerae, Isosturmia chatterjeena dan Carceria kockiana. Selain dengan musuh alami, hama ini dapat juga dikendalikan dengan jamur phatogen serangga Beuveria bossiana (Ratmawati, 2000)
-          Kultur Teknis
Pembersihan merupakan cara bercocok tanam yang paling tua dan cukup efektif untuk menurunkan populasi hama. Banyak hama yang dapat bertahan hidup atau berdiapause di sisa-sisa tanaman. Dengan mebersihkan sisa-sisa tanaman tersebut berarti kita mengurangi laju peningkatan populasi dan ketahanan hidup hama. Pada prinsipnya teknik sanitasi adalah membersihka lahan dari jenis-jenis tanaman singgang, tunggul tanaman, atau bagian-bagian tanaman berbeda (Untung, 1996).
-          Kimiawi
Faktor pengendalian ini digunakan apabila kerusakan yang disebabkan oleh serangga hama sudah melewati garis Normal. Menutup lubang gerekan hama dengan kapas yang telah diberi aturan Insektisida. Menginfus tanaman dengan insektisida sistemik, baik melalui batang maupun ujung akar (Ratmawati, 2002).


PERMASALAHAN
Larva penggerek menyerang cabang tanaman kakao dengan cara menggerek batang pada kulit sekunder, sehingga cabang bagian atas mati atau mudah patah. Serangan pada cabang muda, pada umumnya hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan sementara Akibat dari serangan penggerek ini tanaman kakao kehilangan sebagian dari cabang-cabangnya yang produktif. Bahkan jika menyerang batang utama yang masih muda dapat mematikan tanaman budidaya.
Pada stadia larva dapat menyebabkan serangan penggerek batang merah. Hama Larva ini merusak bagian batang dengan cara menggerek menuju empelur (xylem) batang atau cabang. Menyerang tanaman muda. Bila cabang terserang dipotong dan dibelah, akan Nampak lubang gerekan masuk melintang cabang, kemudian membelok kea rah pucuk membentuk terowongan-gerekan yang panjang. Akibat serangan larva penggerek batang merah ini, bagian tanaman di atas lubang gerekan akan merana, layu, kering, dan mati, sehingga menyebabkan distribusi hara dan air terganggu.
Larva Zeuzera sp. Akan melubangi kulit kayu kemudian Larva masuk kedalamnya dan merusak berkas pembuluhnya. Larva ini dikayu mampu menggerek sampai dengan 9-30 cm dan mengeluarkan sisa gerekan berupa serbuk kayu bercampur lender.
Akibat serangan larva penggerek batang merah ini, bagian tanaman di atas lubang gerekan akan merana, layu, kering, dan mati, sehingga menyebabkan distribusi hara dan air terganggu.




BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    HASIL.
Gambar 2.  Kerusakan pada Tanaman yang disebabkan oleh Penggerek Batang      (Zeuzera coffeae).
Gambar 3.Cara mengendalikan Hama penggerek batang kakao








B.     PEMBAHASAN.
    Akibat dari serangan penggerek ini tanaman kakao kehilangan sebagian dari cabang-cabangnya yang produktif. Bahkan jika menyerang batang utama yang masih muda dapat mematikan tanaman budidaya. Hal ini sesuai dengan Sunanto (2002) yang menyatakan bahwa serangan pada cabang muda, pada umumnya hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan sementara. Jika Larva itu telah keluar, batang tersebut tumbuh normal kembali. Serangan hama ini ditandai dengan adanya kotoran yang membentuk silindrik dan berwarna merah sawo matang yang dikeluarkan melalui liang gerek. Akibat dari serangan penggerek ini tanaman kakao kehilangan sebagian dari cabang-cabangnya yang produktif. Bahkan jika menyerang batang utama yang masih muda dapat mematikan tanaman budidaya.
Pada permukaan batang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan serpihan jaringan. Bila cabang terserang dipotong dan dibelah, akan Nampak lubang gerekan masuk melintang cabang, kemudian membelok kea rah pucuk membentuk terowongan-gerekan yang panjang. Hal ini seusai dengan Ratmawati (2002) yang menyatakan bahwa Larva penggerek menyerang cabang tanaman kakao dengan cara menggerek batang pada kulit sekunder, sehingga cabang bagian atas mati atau mudah patah. Serangan pada cabang muda, pada umumnya hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan sementara. Jika Larva itu telah keluar, batang tersebut tumbuh normal kembali. Serangan hama ini ditandai dengan adanya kotoran yang membentuk silindrik dan berwarna merah sawo matang yang dikeluarkan melalui liang gerek.
Larva ini dikayu mampu menggerek sampai dengan 9-30 cm dan mengeluarkan sisa gerekan berupa serbuk kayu bercampur lender. Cabang yang diserang mengalami kekeringan dan lentiselnya akan membesar sehingga akhirnya kulit kayunya retak dan pecah hal ini sesuai dengan Siregar (2000) yang menyatakan bahwa Larva  Zeuzera sp. Akan melubangi kulit kayu kemudian Larva masuk kedalamnya dan merusak berkas pembuluhnya. Larva ini dikayu mampu menggerek sampai dengan 9-30 cm dan mengeluarkan sisa gerekan berupa serbuk kayu bercampur lender. Cabang yang diserang mengalami kekeringan dan lentiselnya akan membesar sehingga akhirnya kulit kayunya retak dan pecah.
Batang tanaman kakao yang terserang dipotong 10 cm dibawah lubang gerak kearah pangkal batang kemudian batang dibakar diluar kebun. Hal ini sesuai dengan Hidayat (2008) yang menyatakan bahwa Batang tanaman kakao yang terserang.


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1.      Akibat dari serangan penggerek ini tanaman kakao kehilangan sebagian dari      cabang-cabangnya yang produktif.
2.      Larva Zeuzera sp. Akan melubangi kulit kayu kemudian Larva masuk kedalamnya dan merusak berkas pembuluhnya.
3.      Pada permukaan batang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan serpihan jaringan.
4.      Larva ini dikayu mampu menggerek sampai dengan 9-30 cm dan mengeluarkan sisa gerekan berupa serbuk kayu bercampur lender.
5.      Faktor pengendalian Secara Kimiawi digunakan apabila kerusakan yang disebabkan  oleh serangga hama sudah melewati garis Normal.

B. Saran

1.    Z. coffeae  dapat merusak batang atau cabang  tanaman kakao pada stadia larva. Oleh karena itu pengendalian terhadap Z. coffeae  sebaiknya dilakukan pada stadia larva.
2.    Sebaiknya Perlu di adakan praktikum laangan,agar mahasiswa/i dapat mengetahui dan memahami siklus Hidup Hama Z coffeae dan juga mengetahui cara mengendalikan baik secara Fisik,kimia,Kimia maupun Hayati





DAFTAR PUSTAKA
Andriani 1998.  Pengenalan dan Pengendalian Hama-Penyakit Tanaman Kakao. Pusat    Penelitian Kopi dan Kakao. Jember: Pustaka utama

    Haneda, N.F. dan Prat, A.W. 1999. Sudi Mekanisme Toleransi Leda     (Eucalyptus deglupta Blumeb) Terhadap Hama Penggerek Batang (Zeuzera coffeae) untuk Menunjang Pemuliaan Jenis. Diakses dari http://repository.its.ac.id/  pada tanggal 21 Mei 2012 Pukul 22.00 wib

   Hidayat, H. 2008. Hama Penggerek Batang Tanaman Kakao.2008. Balai Besar Penelitian Tanaman Perkebunan. Kalimantan. Diakses dari http://www.deptan.go.id/ pada tanggal 20 Mei 2012 pukul 17.30 wib

    http://www.deptan.go.id/. 2002. Musuh Alami, Hama dan Penyakit Tanaman Kakao [Edisi Kedua]. Proyek Pengendalian Hama Terpadu Perkebunan Rakyat, Direktorat Jendral Perkebunan. Jakarta.

Nasriaty ; Firdausil, A.B. ; dan Yani, A. 2008. Teknologi Budidaya Kakao. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Balitbang Peranian. Jakarta. http://www.deptan.go.id/ diakses pada tanggal 19 Mei 2012 pukul 14.30 wib

Oktaviani, W. 2008. Peningkatan Produksi Buah Kakao (Theobroma cacao L.) Melalui Pemberian Zat Pengatur Tumbuh Paclobutrazol pada Berbagai Konsentrasi. Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor.

Ratmawati, I. 2002. Penggerek Batang Merah (Zeuzera coffeae)  pada Tanaman Kopi. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya. Diakses dari http://repository.its.ac.id/ pada tanggal 19 Mei 2012 pukul 21.30

Santoso, B. 2007. Mekanisme Budidaya Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) pada Lahan eks PT Perkebunan Nusantara XI dengan Teknik Tumpang Sari. diakses dari http://repository.its.ac.id/ pada tanggal 21 Mei 2012 Pukul 19.30 wib

, E. 2005. Pengembangan Budidaya Kakao dan Pengolahan Kakao. diakses http://www.scribd.bertanamkakao/0r994889 pada tanggal 19 Mei 2012 pukul 18.20 wib

Sunanto, H. 2002. Cokelat, Budidaya, Pengolahan Hasil Studi dan Aspek Ekonominya. Penerbit Kanisius. Jakarta.

Untung, K. 1996. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University.    Yogyakarta.

PERLINDUNGAN TANAMAN PENYAKIT HAWAR DAUN KENTANG (Phytophthora infestans) UNKHAIR

MAKALA  ILMIAH :

PERLINDUNGAN TANAMAN
PENYAKIT HAWAR DAUN KENTANG
(Phytophthora infestans)


Oleh :
Yakobus Ratmani
04311311003


PROGRAM STUDIN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE
2015
BAB I
PENDAHULUAN

Kentang merupakan salah satu komoditas sayuran yang penting di Indonesia. Penyakit hawar daun yang disebabkan oleh jamur Phytophthora infestans adalah penyakit yang sangat penting pada tanaman kentang di Indonesia. Penyakit ini mempunyai makna sejarah yang penting di Eropa, karena pada periode 1830-1845 telah menimbulkan kerusakan pada pertanaman kentang di Eropa dan Amerika. Kerusakan yang ditimbulkan penyakit tersebut telah menimbulkan kelaparan besar di Irlandia yang mengakibatkan ratusan ribu penduduk meninggal. Peristiwa ini dikenal dalam sejarah sebagai The Great Famine. Sejak saat itu, penyakit ini telah menjadi kendala utama produksi kedua komoditas pertanian tersebut di dunia, terutama di daerah yang beriklim sejuk dan lembab.
Pada kentang, patogen hawar daun mula-mula dideskripsi di Perancis pada tahun 1845 oleh Montagne. Pada tahun 1876, setelah melakukan penelitian selama bertahun-tahun, Anton de Bary mengukuhkan nama patogen Phytophthora infestans sebagai penyebab penyakit hawar daun pada kentang. Listanto (2010) menyatakan bahwa Phytophthora infestans merupakan pathogen yang tergolong kelas Oomycetes, ordo Peronosporales dan family Pythiaceae. Phytophthora infestans dikenal sebagai pathogen yang menyerang tanaman kentang dengan menyebabkan timbulnya busuk daun atau hawar daun. Penyakit ini telah menjadi perhatian serius oleh para pemulia kentang di seluruh dunia. Penyakit ini dapat menyebabkan kegagalan panen, penurunan hasil, kehilangan dalam penyimpanan dan peningkatan biaya proteksi tanaman












BAB II
PERUMUSAN MASALAH

1.      Apa penyebab.timbulnya Penyakit Hawar Daun pada Tanaman Kentang ?
2.      Apa saja gejala Serangan Penyakit Hawar Daun ?
3.      Bagaimana Morfologi dan Daur Penyakit  Hawar Daun ?
4.      Dimana sajakah Daerah Sebaran Penyakit Hawar Daun ?
5.      Bagaimanakah Pengendalian Penyakit Hawar Daun ?

















BAB III
PEMBAHASAN

A. Profil Tanaman Kentang(Solanum tuberosum L)
Tanaman ini berasal dari daerah subtropis di Eropa yang masuk ke Indonesia pada saat bangsa Eropa memasuki Indonesia di sekitar abad ke 17 atau 18. Sentra tanaman yang utama adalah Lembang dan Pangalengan (Jawa Barat), Magelang (Jawa Timur), Bali. Produksi kentang pada tahun 1998 mencapai 1.011.316 ton. Kentang (Solanum tuberosum L) termasuk jenis tanaman sayuran semusim, berumur pendek dan berbentuk perdu/semak. Kentang termasuk tanaman semusim karena hanya satu kali berproduksi, setelah itu mati. Umur tanaman kentang antara 90-180 hari. Dalam dunia tumbuhan, kentang diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Famili : Solanaceae
Genus : Solanum
Species : Solanun tuberosum L.
Dari tanaman ini dikenal pula spesies-spesies lain yang merupakan spesies liar, di antaranya Solanum andigenum L, Solanum anglgenum L, Solanum demissum L dan lain-lain. Varitas kentang yang banyak ditanam di Indonesia adalah kentang kuning varitas Granola, Atlantis, Cipanas dan Segunung
Melihat kandungan gizinya, kentang merupakan sumber utama karbohidrat. Kentang menjadi makanan pokok di banyak negara barat. Zat-zat gizi yang terkandung dalam 100 gram bahan adalah kalori 347 kal, protein 0,3 gram, lemak 0,1 gram, karbohidrat 85,6 gram, kalsium (Ca) 20 gram, fosfor (P) 30 mg, besi (Fe) 0,5 mg dan vitamin B 0,04 mg.








B. Penyakit Hawar Daun pada Tanaman Kentang

Hawar daun kentang (Phytoptora infestans)
Nama latin                         : Phytophthora infestans
Nama umum                      : busuk daun kentang

Kingdom                        : Chromalveolata
Filum                              : Herokontophyta
Kelas                              : Oomycetes 
Ordo                               : Peronosporales
Family                            : Phythiaceae
Genus                             : Phytophthora
Spesies                           : Phytophthora infestans

Tipe gejala penyakit: Gejala nekrotik
Patogen penyebab penyakit: jamur
Inang utama                      : Kentang
Inang alternatif                 : melon, tomat
C. Gejala Serangan Penyakit Hawar Daun
Penyakit hawar daun kentang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans , yang semula disebut Botrytis infestans Mont. Miselium interseluler tidak bersekat, mempunyai banyak houstorium. Konidiofor keluar dari mulut kulit, berkumpul 1-5, dengan percabangan simpodial, mempunyai bengkakan yang khas. Konidium berbentuk buah peer, 22-32 x 16-24 µm, berinti banyak 7-32. Konidium berkecambah secara tidak langsung dengan membentuk hifa (benang) baru, atau secara tidak langsung dengan membantuk spora kembara, konidium dapat juga disebut sebagai sporangium atau zoosporangium. Cendawan ini dapat membentuk oospora meskipun agak jarang.
Jamur Phytophthora infestans diketahui mempunyai banyak ras fisiologi.
Gejala awal bercak pada bagian tepi dan ujung daun, bercak melebar dan terbentuk daerah nekrotik yang berwarna coklat. Bercak dikelilingi oleh massa sporangium yang berwarna putih dengan belakang hijau kelabu. Serangan dapat menyebar ke batang, tangkai dan umbi. Perkembangan bercak penyakit pada daun paling cepat terjadi pada suhu 18˚C – 20˚C. Pada suhu udara 30˚C perkembangan bercak terhambat. Oleh karena itu di dataran rendah ( kurang dari 500 dpl ) penyakit busuk daun tidak merupakan masalah. Epidemi penyakit busuk daun biasanya terjadi pada suhu 16˚C – 24˚C. Didataran tinggi di Jawa, busuk daun terutama berkembang hebat pada musim hujan yang dingin, antara bulan Desember dan Februari.
Daun-daun yang sakit mempunyai bercak-bercak nekrotik pada tepi dan ujungnya. Kalau suhu tidak terlalu rendah dan kelembaban cukup tinggi, bercak-bercak tadi akan meluas dengan cepat dan mematikan seluruh daun. Bahkan kalau cuaca sedemikian berlangsung lama, seluruh bagian tanaman di atasakan mati. Dalam cuaca yang kering jumlah bercak terbatas, segera mengering dan tidak meluas. Umumnya gejala baru tampak bila tanaman berumur lebih dari satu bulan, meskipun kadang-kadang sudah terlihat pada tanaman yang berumur 3 minggu.
Pembentukan penyakit busuk daun ini bervariasi sesuai kondisi lingkungan. Kelembaban relative, suhu, intensitas cahaya, dan pemeliharaan kentang itu sendiri akan mempengaruhi gejala yang timbul. Daun yang sakit terlihat berbecak – bercak pada ujung dan tepi daunnya dan dapat meluas ke bawah serta mematikan seluruh daun dalam waktu 1 sampai 4 hari; hal ini terjadi jika udara lembab. Bila udara kering jumlah daun yang terserang terbatas, bercak – bercak tetap kecil dan jadi kering dan tidak menular ke daun lainnya.
Di lingkungan tropis, tanaman kentang akan terus berkembang, sehingga udara umumnya inokulum memulai awal terjadinya penyakit pada lahan baru. Di daerah dataran rendah, tanah atau sisa – sisa tanaman diperkirakan menjadi tempat yang sesuai bagi pathogen antara musim. Jamur juga akan bertahan hidup dalam umbi yang terinfeksi tetap di tanah dari musim sebelumnya. Benih juga bisa terinfeksi dan menjadi tempat hidup pathogen. Ketika tunas baru dihasilkan dari benih atau umbi tua yang terinfeksi, jamur tersebut akan menginfeksi tunas baru tersebut, kemudian sporulates dari pertumbuhan baru ini serta sporangia akan tersebar di udara atau di air.
 Serangan berat terjadi pada bulan Oktober-Februari. Jika suhu tidak terlalu rendah dan kelembaban cukup tinggi, bercak-bercak tersebut akan meluas dengan cepat dan menyebabkan kematian seluruh daun.Bahkan jika cuaca demikian berlangsung lama, seluruh bagian tanaman di atasakan mati. Dalam cuaca yang kering jumlah bercak terbatas, segera mengeringdan tidak meluas. Umumnya gejala baru tampak bila tanaman berumur lebih darisatu bulan, meskipun kadang-kadang sudah terlihat pada tanaman yang berumur 3 minggu
Phytophthora infestans dapat juga menyerang umbi, jika keadaan baik bagi pertumbuhannya pada umbi terjadi bercak yang agak mengendap, berwarnacoklat atau hitam ungu, yang masuk sampai 3-6 mm ke dalam umbi. Bagian yangterserang ini tidak menjadi lunak. Bagian yang busuk kering tadi dapat terbatassebagai bercak-bercak kecil, tetapi dapat juga meliputi suatu bagian yang luaspada satu umbi. Gejala ini dapat tampak pada waktu umbi digali, tetapi seringtampak jelas setelah umbi disimpan
D. Morfologi dan Daur Penyakit  Hawar Daun 
1. Morfologi
Phytophthora infestans memiliki bentuk miselium interseluler tidak bersekat, mempunyai banyak houstorium. Konidiofor keluar dari mulut kulit,berkumpul 1-5, dengan percabangan simpodial, mempunyai bengkakan yangkhas. Konidium berbentuk buah peer, 22-32 x 16-24 µm, berinti banyak 7-32. Konidium berkecambah secara tidak langsung denganmembentuk hifa (benang) baru, atau secara tidak langsung dengan membantuk spora kembara, konidium dapat juga disebut sebagai sporangium atau zoosporangium. Cendawan ini dapat membentuk oospora meskipun agak jarang. 
2. Siklus hidup Phytophthora infestans
Patogen dapat tersebar sampai ke batang dengan sangat cepat dalam jaringan korteks yang menyebabkan kerusakan sel didalamnya. Selanjutnya, miselium tumbuh diantara isi sel batang, tetapi jarang terdapat dalam jaringan vaskuler. Miselium tumbuh menembus batang sampai ke permukaan tanah. Ketika mesilium mencapai udara disekitar bagian tanaman miselium memproduksi sporangiospor yang dapat menembus stomata dan menetap serta menyebar melalui daun. Sporangiospor akan terlepas dan menyebabkan infeksi baru, sel-sel dimana miselium berada dapat mati dan menjadi busuk, miselium menyebar luas sampai ke bagian yang sehat. Beberapa hari setelah infeksi baru, sporangiospor timbul dari stomata dan memproduksi banyak sporangia yang dapat menginfeksi tanaman baru. Selama musin hujan, sporangia terbawa sampai ke tanah. Umbi dekat permukaan tanah dapat terserang zoospore yang bertunas dan berpenetrasi pada umbi menembus lenti sel atau melalui luka alami atau luka akibat serangga dan alat pertanian.
Cendawan Phytophthora infestans dapat mempertahankan diri dari musim kemusim dalam umbi-umbi yang sakit, jika umbi yang sakit ditanam, cendawan ini dapat naik ke tunas muda yang baru saja tumbuh dan membentuk banyak konidium atau sporangium. Demikian pula umbi-umbi sakit yang dibuang, dalam keadaan yang cocok dapat bertunas dan menyebarkan konidium. Karena cendawan ini dapat membentuk oospora, maka cendawan dapat mempertahankan diri dalam bentuk ini juga, dan konidium dapat dipencarkan oleh angin dari sumber infeksi ke tanaman lain.
Daur hidup dimulai saat sporangium terbawa oleh angin. Jika jatuh pada setetes air pada tanaman yang rentan, sporangium akan mengeluarkan spora kembara (zoospora), yang seterusnya membentuk pembuluh kecambah yang mengadakan infeksi. Ini terjadi ketika berada dalam kondisi basah dan dingin yang disebut dengan perkecambahan tidak langsung. Spora ini akan berenang sampai menemukan tempat inangnya. Ketika keadaan lebih panas, Phytophthora infestans akan menginfeksi tanaman dengan perkecambahan langsung, yaitu germ tube yang terbentuk dari sporangium akan menembus jaringan inang yang akan membiarkan parasit tersebut untuk memperoleh nutrient dari tubuh inangnya.
E. Daerah Sebaran Penyakit Hawar Daun
Hawar daun atau busuk daun (Phytophthora infestans) merupakan penyakit utama pada tanaman kentang dan beberapa spesies dan famili Solanaceae dan menimbulkan kerugian yang sangat besar di setiap pertanaman kentang dengan menunjukkan efek pada produksi umbi. Penyakit ini telah dijumpai sejak awal kedua tanaman tersebut dibudidayakan oleh petani, yaitu pada tahun 1794. Penyakit hawar daun ini menyebar luas disemua tempat pertanaman kentang di dunia. Di Indonesia diketahui bahwa penyakit ini terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sulawesi Selatan dan dijumpai di Amerika Serikat, Irlandia, Jerman, Thailand, Malaysia, Belanda, dan Kepulauan Pasifik Selatan. Diduga penyakit ini semula berasal dari bibit kentang yang diimpor dari Eropa.
Di lapang, penyakit ini mula-mula menyerang daun kentang atau tomat. Pada infeksi yang berat seluruh daun yang terinfeksi mem-busuk, sehingga akhirnya tanaman mati. Penyakit ini juga dapat menyerang umbi kentang, meskipun di Indonesia jarang ditemukan gejala infeksi pada umbi. Infestasi penyakit hawar daun kentang tertinggi di Indonesia adalah Provinsi Jawa Tengah, karena Provinsi ini memiliki area perta-naman kentang yang paling luas, yaitu di Kabupaten Wonosobo. 
Kerusakan oleh penyakit hawar daun dapat mengakibatkan penurunan hasil antara 10-100%. Di Belarusia tahun 1999 Phytophthora infestans dapat menyerang daun-daun tanaman bagian atas (daun muda) pada awal periode pertumbuhan vegetatif tanaman dengan tingkat kerusakan daun mencapai 80-100% pada varietas yang berumur genjah, dan 70-80% pada varietas yang berumur sedang dan dalam.
F. Pengendalian Penyakit Hawar Daun
1. Kultur Teknis
Berupa upaya sanitasi(Menjaga kebersihan lahan) lahan dari sejak awal kegiatan budidaya,sehingga lahan mencegah terjadinya kondisi yang  sesuai bagi vector pembawa penyakit, Menanam jenis – jenis tanaman yang tahan. Penggunaan varietas tahan merupakan salah satu cara pengendalian hawar daun ini.
2.Mekanis
Yaitu berupa membuang tanaman yang terkena penyakit sehingga tidak menyebar ke tumbuhan lain, sisa-sisa tanaman yang sakit harus segera dimusnahkan ( dibakar ) agar daur hidup jamur dapat diputuskan.
3.Kimiawi
Menggunakan Antracol 70 WP, Dithane M-45, Brestan 60, Polyram 80 WP, Velimek 80 WP dan lain-lain.
4.Pengendalian Hama Terpadu
Pada prinsipnya, konsep pengendalian hama terpadu adalah pengendalian hama yang dilakukan dengan mengggunakan kekuatan unsur-unsur alami yang mampu mengendalikan hama agar tetap berada pada jumlah di bawah ambang batas yang merugikan. Pengendalian hama terpadu berpegang pada prinsi-prinsip sebagai berikut :
a. Pemanfaatan pengandalian alami (secara biologis dan mekanis) seoptimal mungkin, dengan mengurangi tindakan-tindakan yang dapat mematikan musuh alami atau organism yang bukan sasaran.
b. Pengolahan ekosistem dengan mengubah mikrohabitat sehingga tidak menguntungkan bagi kehidupan organism pengganggu (hama dan pathogen), melalui teknik budidaya yang intensif
c. Penggunaan pestisida secara bijaksana, yaitu dengan memperhatikan waktu, dosis, dan efektivitas.













BAB IV
KESIMPULAN

Dari pembahasan tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan antaralainn :
1.      Penyakit hawar daun kentang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans , yang semula disebut Botrytis infestans Mont.
2.      Gejala serangan (cirri-ciri penyakit): gejalanya pada tepi-tepi daun ditemukan bercak-bercak terutama pada suhu rendah, kelembapan tinggi, dan curah hujan tinggi. Phytophthora infestans memiliki bentuk miselium interseluler tidak bersekat, mempunyai banyak houstorium. Konidiofor keluar dari mulut kulit,berkumpul 1-5, dengan percabangan simpodial, mempunyai bengkakan yangkhas. Konidium berbentuk buah peer, 22-32 x 16-24 µm, berinti banyak 7-32
3.      Siklus Hidup Phitophtora infestans;Patogen dapat tersebar sampai ke batang dengan sangat cepat dalam jaringan korteks yang menyebabkan kerusakan sel didalamnya. Selanjutnya, miselium tumbuh diantara isi sel batang, tetapi jarang terdapat dalam jaringan vaskuler. Miselium tumbuh menembus batang sampai ke permukaan tanah. Ketika mesilium mencapai udara disekitar bagian tanaman miselium memproduksi sporangiospor yang dapat menembus stomata dan menetap serta menyebar melalui daun. Sporangiospor akan terlepas dan menyebabkan infeksi baru, sel-sel dimana miselium berada dapat mati dan menjadi busuk, miselium menyebar luas sampai ke bagian yang sehat. Beberapa hari setelah infeksi baru, sporangiospor timbul dari stomata dan memproduksi banyak sporangia yang dapat menginfeksi tanaman baru.
4.      Penyakit hawar daun ini menyebar luas disemua tempat pertanaman kentang di dunia. Di Indonesia diketahui bahwa penyakit ini terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sulawesi Selatan dan dijumpai di Amerika Serikat, Irlandia, Jerman, Thailand, Malaysia, Belanda, dan Kepulauan Pasifik Selatan. Diduga penyakit ini semula berasal dari bibit kentang yang diimpor dari Eropa.
5. Pengendalian penyakit ini diantaranya melalui beberapa metode ;1.Kultur Teknis,2.Mekanis,3.Kimiawi,4.Pengendalian Hama Terpadu






DAFTAR PUSTAKA
Andrian 2010. Budidaya Kentang. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Cahyadi A 2009. Simulasi Model Pertumbuhan Tanaman Kentang (Solanum tuberosum) dan Prediksi Kejadian Penyakit Hawar Daun Kentang (Phytophthora infestans). J. Agrosains 3(2): 14-26.
Lengkong F 2008. Penyakit Hawar Daun (Late Blight) : Permasalahan, Identifikasi dan Seleksi Tanaman Tahan Penyakit. J. Agronomika 1(3): 126-135.
Ambarwati D A 2012. Pemanfaatan Tanaman Kentang Transgenik RB untuk Perakitan Kentang Tahan Penyakit Hawar Daun (Phytophthora infestans) di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian 31(3) : 94-102
Listanto E 2010. Ekspresi Gen RB pada Tanaman Kentang Kultivar Granola untuk Meningkatkan Ketahanan terhadap Penyakit Hawar Daun (Phytophthora infestans ). Jurnal  Budidaya Pertanian Stiper Sriwigama 2(1): 156-176.
Suryana D 2001. Cara Menanam Kentang. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama
Vina F 2008. Perampok di Ladang Kentang. Jakarta: PT Trubus Media Swadaya