PENGELOLAHAN
HAMA
PENGGEREK
BATANG (Zeuzera coffeae )
PADA TANAMAN
KAKAO (Theobroma cacao)

Oleh :
Aser. Y. K.
Nerotouw
04311311049
PROGRAM
STUDIN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
KHAIRUN
TERNATE
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Cokelat adalah sebutan untuk makanan yang diolah dari biji kakao. Cokelat
umumnya diberikan sebagai hadiah atau bingkisan di hari raya. Cokelat juga
telah menjadi salah satu rasa yang paling populer di dunia, selain sebagai
cokelat batangan yang paling umum dikonsumsi, cokelat juga menjadi bahan
minuman hangat dan dingin. Perkebunan
kakao skala besar atau perkebunan rakyat, pernah terjadi serangan penyakit
tanaman. Pada seluruh bagian tanaman kakao mulai dari akar, batang, daun , buah
dapat diserang penyakit.
Usaha penanganan penyakit yang
menyerang kakao tidak hanya jenis penyakitnya yang perlu diperhatikan, tetapi
juga lingkungan serta tanaman inang alternatifnya juga harus diperhatikan.
Salah satu factor lingkungan yang paling berpengaruh adalah curah hujan,
kelembaban, dan suhu. Apabila tanaman mengalami kerusakan akibat penyakit,
tindakan yang dilakukan adalah melakukan diagnosis. Tindakan ini dapat
digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk melakukan
pengendalian. Apabila ada serangan suatu penyakit yang kurang merugikan belum
perlu dikendalika, tetapi tetap perlu diperhatikan, karena suatu serangan
penyakit yang kurang merugikan ini daya merusaknya bias meningkat jika mendapat
inang yang rentan dan kondisi lingkungan yang mendukung.
Penanganan serangan penyakit bisa dilakukan dengan memadukan beberapa teknik
yang sesuai. Tujuannya untuk mengurangi kegagalan dan menjaga kelestarian
lingkungan. Berdasarkan diagnosis yang tepat, pengetahuan epidemiologi (laju
pertumbuhan penyakit), dan kerusakan yang ditimbulkan oleh penyakit, maka dapat
disusun suatu strategi penanganan yang efektif dan efisien. Berikut akan
dibahas beberapa penyakit yang menyeang tanaman kakao.
1.2.
Permasalahan
A.
Bagaimana Mengetahui Teknik pengendalian Hama
Penggerek Batang/Cabang Kakao (Zeuzera coffeae) pada tanaman kakao
B.
Bagaimana Mengendalikan Hama Penggerek Batang (Zeuzera
coffeae)
1.3.
Tujuan
A.
Mengenali Hama Penggerek Batang Kakao dikalangan
Mahasiswa Pertania
B.
Untuk mengetahui bioekologi dari Penggerek Batang / cabang (Zeuzera
coffeae) pada tanaman kakao.
C.
Menambah kepekaan mahasiswa petanian dalam pengenalan
gejala hama
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Hama Penggerek Batang (Zeuzera
coffeae) Kakao
Klasifikasi Zeuzera coffeae menurut
Kalshoven (1981) sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Divisi :
Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo :
Lepidoptera
Famili :
Cossidae
Genus : Zeuzera
Spesies : Zeuzera coffeae
Serangga dewasa berupa kupu -
kupu dengan sayap depan berbintik - bintik tebal berwarna hitam, di bagian atas
berwarna putih tembus pandang. Telur berbentuk oval berwarna kuning pucat dan
diletakkan secara berkelompok di permukaan batang atau cabang. Di bagian tubuh
ke arah kepala, kepompong berwarna coklat tua, serta di bagian ekor dan perut
berwarna coklat muda (Pusat Penelitian
Kopi dan Kakao Indonesia 2008).
2.2. Siklus
hidup Hama Penggerek Batang (Zeuzera coffeae)
Imago serangga zeuzera yang aktif pada malam hari
(nokturnal) ini bertelur selama 6 sd 8 kali sehari, sedangkan periode
bertelurnya berlangsung 5 sd 6 hari. Imago betina dapat memproduksi telur
sebanyak 500 sd 1.000 butir selama masa hidupnya. Telur biasanya diletakan di
celah kulit-kulit pohon yang membuka. Telur zeuzera dapat diidentifikasi dari
dimensinya yakni panjang 1 mm, lebar 0,5 mm, dan berwarna kuning
kemerah-merahan.
Telur biasanya menetas menjadi ulat penggerek batang
setelah10 sd 11 hari setelah diletakan. Ulat berwarna merah cerah dengan
panjang 3 sd 5 mm. Ulat tersebut dapat menggerek cabang bahkan batang tanaman
dan menyebabkan cabang atau batang yang terserang menjadi kopong dan menyisakan
sedikit lapisan xilem dan floemnya saja. Ulat tersebut sering berpindah dari
satu lubang gerekan ke bagian cabang atau batang lainnya untuk membuat gerekan
baru. Liang gerekan dibuat umumnya sedalam 40 sd 50 cm dengan diameter liang
sekitar 1 sd 1,2 cm. Tiap liang gerekan umumnya ditinggali oleh satu ekor
ulat saja.
Ulat bermetamorfosis menjadi kepompong umumnya pada
usia 81 sd 151 hari setelah ditetaskan. Ulat berkepompong di dalam kamar
kepompong yang panjangnya 7 sd 12 cm yang dibuat dalam liang gerekan. Liang
gerekan ketim ulat tengah berada pada fase kepompong umumnya ditutup bagian
atas dan bawahnya menggunakan kotoran atau sisa gerekan.
Kepompong menjadi ngengat (imago) setelah 21 sd 30
hari setelah dimulainya fase kepompong. Untuk menjadi ngengat jantan, lama
stadium kepompong memerlukan waktu 27 sd 30 hari, sedangkan untuk menjadi
ngengat betika memerlukan waktu 21 sd 23 hari. Imago keluar dari liang gerekan
dan kamar kepompong dengan meninggalkan kulit kepompong pada liang gerekan.
Imago ini kemudian meneruskan siklus hidupnya dengan meletakan telurnya pada
tanaman kakao lainnya. Hama ini juga dapat menginang pada beberapa tanaman
selain kakao, seperti bungur, jati, mahoni, randu, jambu biji, kopi, dan kina.
Gamabar 1. Siklus hidup

2.3.
Faktor-Faktor yang mempengarui Gejala Serangan Hama Zeuzera sp
Larva dari serangga ini menggerek
cabang-cabang tanaman kakao yang bergaris tengah sekitar 3-5 cm. Larva
penggerek menyerang cabang tanaman kakao dengan cara menggerek batang pada
kulit sekunder, sehingga cabang bagian atas mati atau mudah patah. Serangan pada
cabang muda, pada umumnya hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan sementara.
Jika Larva itu telah keluar, batang tersebut tumbuh normal kembali. Serangan
hama ini ditandai dengan adanya kotoran yang membentuk silindrik dan berwarna
merah sawo matang yang dikeluarkan melalui liang gerek. Akibat dari serangan
penggerek ini tanaman kakao kehilangan sebagian dari cabang-cabangnya yang
produktif. Bahkan jika menyerang batang utama yang masih muda dapat mematikan
tanaman budidaya (Sunanto, 2000).
Pada stadia larva dapat menyebabkan
serangan penggerek batang merah. Hama Larva ini merusak bagian batang dengan
cara menggerek menuju empelur (xylem) batang atau cabang. Menyerang tanaman
muda. Pada permukaan batang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan
serpihan jaringan. Bila cabang terserang dipotong dan dibelah, akan Nampak
lubang gerekan masuk melintang cabang, kemudian membelok kea rah pucuk
membentuk terowongan-gerekan yang panjang. Akibat serangan larva penggerek
batang merah ini, bagian tanaman di atas lubang gerekan akan merana, layu,
kering, dan mati, sehingga menyebabkan distribusi hara dan air terganggu
(Ratmawati, 2002).
Serangan Zeuzera sp. Menyebabkan
daun mengalami nekrosis dan pucuk pada tanaman dewasa akan mati. Serangannya
terutama pada cabang-cabang muda yang lembek, misalnya di sudut tangkai daun.
Larva Zeuzera sp. Akan melubangi kulit kayu kemudian Larva masuk
kedalamnya dan merusak berkas pembuluhnya. Larva ini dikayu mampu menggerek
sampai dengan 9-30 cm dan mengeluarkan sisa gerekan berupa serbuk kayu
bercampur lender. Cabang yang diserang mengalami kekeringan dan lentiselnya
akan membesar sehingga akhirnya kulit kayunya retak dan pecah (Siregar, 2000).
Pengendalian Hama Zeuzera sp
-
Secara
Mekanis
Batang tanaman kakao yang terserang
dipotong 10 cm dibawah lubang gerak kearah pangkal batang kemudian batang
dibakar diluar kebun (Hidayat, 2008). Pengendalian dapat juga dilakukan dengan
cara menyumbat liang-liang gerek dengan kapas yang telah dicelupkan dalam
insektisida (Sunanto, 2000)
-
Biologis
Dengan musuh alami sejenis
parasitoid : Bracon zeuzerae, Isosturmia chatterjeena dan Carceria kockiana.
Selain dengan musuh alami, hama ini dapat juga dikendalikan dengan jamur
phatogen serangga Beuveria bossiana (Ratmawati, 2000)
-
Kultur
Teknis
Pembersihan merupakan cara bercocok
tanam yang paling tua dan cukup efektif untuk menurunkan populasi hama. Banyak
hama yang dapat bertahan hidup atau berdiapause di sisa-sisa tanaman. Dengan
mebersihkan sisa-sisa tanaman tersebut berarti kita mengurangi laju peningkatan
populasi dan ketahanan hidup hama. Pada prinsipnya teknik sanitasi adalah
membersihka lahan dari jenis-jenis tanaman singgang, tunggul tanaman, atau
bagian-bagian tanaman berbeda (Untung, 1996).
-
Kimiawi
Faktor pengendalian ini digunakan
apabila kerusakan yang disebabkan oleh serangga hama sudah melewati garis
Normal. Menutup lubang gerekan hama dengan kapas yang telah diberi aturan
Insektisida. Menginfus tanaman dengan insektisida sistemik, baik melalui batang
maupun ujung akar (Ratmawati, 2002).
PERMASALAHAN
Larva penggerek menyerang cabang
tanaman kakao dengan cara menggerek batang pada kulit sekunder, sehingga cabang
bagian atas mati atau mudah patah. Serangan pada cabang muda, pada umumnya
hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan sementara Akibat dari serangan penggerek
ini tanaman kakao kehilangan sebagian dari cabang-cabangnya yang produktif.
Bahkan jika menyerang batang utama yang masih muda dapat mematikan tanaman
budidaya.
Pada stadia larva dapat menyebabkan
serangan penggerek batang merah. Hama Larva ini merusak bagian batang dengan
cara menggerek menuju empelur (xylem) batang atau cabang. Menyerang tanaman
muda. Bila cabang terserang dipotong dan dibelah, akan Nampak lubang gerekan masuk
melintang cabang, kemudian membelok kea rah pucuk membentuk terowongan-gerekan
yang panjang. Akibat serangan larva penggerek batang merah ini, bagian tanaman
di atas lubang gerekan akan merana, layu, kering, dan mati, sehingga
menyebabkan distribusi hara dan air terganggu.
Larva Zeuzera sp. Akan
melubangi kulit kayu kemudian Larva masuk kedalamnya dan merusak berkas
pembuluhnya. Larva ini dikayu mampu menggerek sampai dengan 9-30 cm dan
mengeluarkan sisa gerekan berupa serbuk kayu bercampur lender.
Akibat serangan larva penggerek
batang merah ini, bagian tanaman di atas lubang gerekan akan merana, layu,
kering, dan mati, sehingga menyebabkan distribusi hara dan air terganggu.
BAB III
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A. HASIL.
Gambar 2. Kerusakan pada Tanaman yang disebabkan oleh
Penggerek Batang (Zeuzera coffeae).

Gambar 3.Cara mengendalikan Hama
penggerek batang kakao

B. PEMBAHASAN.
Akibat dari serangan penggerek ini tanaman
kakao kehilangan sebagian dari cabang-cabangnya yang produktif. Bahkan jika
menyerang batang utama yang masih muda dapat mematikan tanaman budidaya. Hal
ini sesuai dengan Sunanto (2002) yang menyatakan bahwa serangan pada cabang
muda, pada umumnya hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan sementara. Jika Larva
itu telah keluar, batang tersebut tumbuh normal kembali. Serangan hama ini
ditandai dengan adanya kotoran yang membentuk silindrik dan berwarna merah sawo
matang yang dikeluarkan melalui liang gerek. Akibat dari serangan penggerek ini
tanaman kakao kehilangan sebagian dari cabang-cabangnya yang produktif. Bahkan
jika menyerang batang utama yang masih muda dapat mematikan tanaman budidaya.
Pada
permukaan batang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan
serpihan jaringan. Bila cabang terserang dipotong dan dibelah, akan Nampak
lubang gerekan masuk melintang cabang, kemudian membelok kea rah pucuk
membentuk terowongan-gerekan yang panjang. Hal ini seusai dengan Ratmawati
(2002) yang menyatakan bahwa Larva penggerek menyerang cabang tanaman kakao
dengan cara menggerek batang pada kulit sekunder, sehingga cabang bagian atas
mati atau mudah patah. Serangan pada cabang muda, pada umumnya hanya
menyebabkan hambatan pertumbuhan sementara. Jika Larva itu telah keluar, batang
tersebut tumbuh normal kembali. Serangan hama ini ditandai dengan adanya
kotoran yang membentuk silindrik dan berwarna merah sawo matang yang
dikeluarkan melalui liang gerek.
Larva ini
dikayu mampu menggerek sampai dengan 9-30 cm dan mengeluarkan sisa gerekan berupa
serbuk kayu bercampur lender. Cabang yang diserang mengalami kekeringan dan
lentiselnya akan membesar sehingga akhirnya kulit kayunya retak dan pecah hal
ini sesuai dengan Siregar (2000) yang menyatakan bahwa Larva Zeuzera
sp. Akan melubangi kulit kayu kemudian Larva masuk kedalamnya dan
merusak berkas pembuluhnya. Larva ini dikayu mampu menggerek sampai dengan 9-30
cm dan mengeluarkan sisa gerekan berupa serbuk kayu bercampur lender. Cabang
yang diserang mengalami kekeringan dan lentiselnya akan membesar sehingga
akhirnya kulit kayunya retak dan pecah.
Batang
tanaman kakao yang terserang dipotong 10 cm dibawah lubang gerak kearah pangkal
batang kemudian batang dibakar diluar kebun. Hal ini sesuai dengan Hidayat
(2008) yang menyatakan bahwa Batang tanaman kakao yang terserang.
BAB IV
KESIMPULAN
DAN SARAN
A. Kesimpulan
1.
Akibat dari
serangan penggerek ini tanaman kakao kehilangan sebagian dari cabang-cabangnya yang produktif.
2.
Larva Zeuzera
sp. Akan melubangi kulit kayu kemudian Larva masuk kedalamnya dan
merusak berkas pembuluhnya.
3.
Pada
permukaan batang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan
serpihan jaringan.
4.
Larva ini
dikayu mampu menggerek sampai dengan 9-30 cm dan mengeluarkan sisa gerekan
berupa serbuk kayu bercampur lender.
5.
Faktor
pengendalian Secara Kimiawi digunakan apabila kerusakan yang disebabkan oleh serangga hama sudah melewati garis
Normal.
B. Saran
1.
Z. coffeae dapat merusak batang atau cabang tanaman kakao pada stadia larva. Oleh karena
itu pengendalian terhadap Z. coffeae sebaiknya dilakukan pada stadia larva.
2.
Sebaiknya Perlu di adakan praktikum laangan,agar mahasiswa/i dapat
mengetahui dan memahami siklus Hidup Hama Z coffeae dan juga mengetahui cara
mengendalikan baik secara Fisik,kimia,Kimia maupun Hayati
DAFTAR
PUSTAKA
Andriani 1998. Pengenalan dan Pengendalian Hama-Penyakit Tanaman
Kakao. Pusat Penelitian Kopi
dan Kakao. Jember: Pustaka utama
Haneda, N.F. dan Prat, A.W. 1999. Sudi Mekanisme Toleransi
Leda (Eucalyptus deglupta Blumeb)
Terhadap Hama Penggerek Batang (Zeuzera coffeae) untuk Menunjang
Pemuliaan Jenis. Diakses dari http://repository.its.ac.id/ pada tanggal 21 Mei 2012
Pukul 22.00 wib
Hidayat, H. 2008. Hama Penggerek Batang Tanaman Kakao.2008. Balai Besar
Penelitian Tanaman Perkebunan. Kalimantan. Diakses dari http://www.deptan.go.id/ pada tanggal 20 Mei 2012 pukul
17.30 wib
http://www.deptan.go.id/. 2002. Musuh Alami, Hama dan
Penyakit Tanaman Kakao [Edisi Kedua]. Proyek Pengendalian Hama Terpadu
Perkebunan Rakyat, Direktorat Jendral Perkebunan. Jakarta.
Nasriaty ; Firdausil, A.B. ; dan
Yani, A. 2008. Teknologi Budidaya Kakao. Balai Besar Pengkajian dan
Pengembangan Teknologi Pertanian, Balitbang Peranian. Jakarta. http://www.deptan.go.id/ diakses pada tanggal 19 Mei 2012
pukul 14.30 wib
Oktaviani, W. 2008. Peningkatan
Produksi Buah Kakao (Theobroma cacao L.) Melalui Pemberian Zat
Pengatur Tumbuh Paclobutrazol pada Berbagai Konsentrasi. Program Studi
Agronomi, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor.
Ratmawati, I. 2002. Penggerek Batang
Merah (Zeuzera coffeae) pada Tanaman Kopi. Balai Besar Perbenihan
dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya. Diakses dari http://repository.its.ac.id/ pada tanggal 19 Mei 2012 pukul
21.30
Santoso, B. 2007. Mekanisme Budidaya
Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) pada Lahan eks PT Perkebunan
Nusantara XI dengan Teknik Tumpang Sari. diakses dari http://repository.its.ac.id/ pada tanggal 21 Mei 2012 Pukul
19.30 wib
, E. 2005. Pengembangan Budidaya
Kakao dan Pengolahan Kakao. diakses http://www.scribd.bertanamkakao/0r994889 pada tanggal 19 Mei 2012 pukul
18.20 wib
Sunanto, H. 2002. Cokelat, Budidaya,
Pengolahan Hasil Studi dan Aspek Ekonominya. Penerbit Kanisius. Jakarta.
Untung, K. 1996.
Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University. Yogyakarta.