Selasa, 15 Desember 2015

PENGELOLAHAN HAMA PENGGEREK BATANG (Zeuzera coffeae ) PADA TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao)

MAKALA  ILMIAH :

PENGELOLAHAN HAMA
PENGGEREK BATANG (Zeuzera coffeae )
PADA TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao)

Oleh :
WAIRONIS DANIEL KORWA
0431 12 084


PROGRAM STUDIN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE
2015





                                                                           BAB I
PENDAHULUAN

1.1.            Latar  Belakang
Cokelat adalah sebutan untuk makanan yang diolah dari biji kakao. Cokelat umumnya diberikan sebagai hadiah atau bingkisan di hari raya. Cokelat juga telah menjadi salah satu rasa yang paling populer di dunia, selain sebagai cokelat batangan yang paling umum dikonsumsi, cokelat juga menjadi bahan minuman hangat dan dingin.  Perkebunan kakao skala besar atau perkebunan rakyat, pernah terjadi serangan penyakit tanaman. Pada seluruh bagian tanaman kakao mulai dari akar, batang, daun , buah dapat diserang penyakit.
Usaha penanganan penyakit yang menyerang kakao tidak hanya jenis penyakitnya yang perlu diperhatikan, tetapi juga lingkungan serta tanaman inang alternatifnya juga harus diperhatikan. Salah satu factor lingkungan yang paling berpengaruh adalah curah hujan, kelembaban, dan suhu. Apabila tanaman mengalami kerusakan akibat penyakit, tindakan yang dilakukan adalah melakukan diagnosis. Tindakan ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk melakukan pengendalian. Apabila ada serangan suatu penyakit yang kurang merugikan belum perlu dikendalika, tetapi tetap perlu diperhatikan, karena suatu serangan penyakit yang kurang merugikan ini daya merusaknya bias meningkat jika mendapat inang yang rentan dan kondisi lingkungan yang mendukung.

            Penanganan serangan penyakit bisa dilakukan dengan memadukan beberapa teknik yang sesuai. Tujuannya untuk mengurangi kegagalan dan menjaga kelestarian lingkungan. Berdasarkan diagnosis yang tepat, pengetahuan epidemiologi (laju pertumbuhan penyakit), dan kerusakan yang ditimbulkan oleh penyakit, maka dapat disusun suatu strategi penanganan yang efektif dan efisien. Berikut akan dibahas beberapa penyakit yang menyeang tanaman kakao.





1.2.            Permasalahan
A.    Bagaimana Mengetahui Teknik pengendalian Hama Penggerek Batang/Cabang  Kakao (Zeuzera coffeae) pada tanaman kakao
B.     Bagaimana Mengendalikan Hama Penggerek Batang  (Zeuzera coffeae)

1.3.            Tujuan
A.    Mengenali Hama Penggerek Batang Kakao dikalangan Mahasiswa Pertania
B.     Untuk mengetahui bioekologi dari Penggerek Batang / cabang (Zeuzera coffeae) pada tanaman kakao.
C.     Menambah kepekaan mahasiswa petanian dalam pengenalan gejala hama
























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hama Penggerek Batang  (Zeuzera coffeae)  Kakao

Klasifikasi  Zeuzera coffeae  menurut Kalshoven (1981) sebagai berikut :
            Kingdom : Animalia
Divisi : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Famili : Cossidae
Genus : Zeuzera
             Spesies : Zeuzera coffeae
Serangga dewasa berupa kupu - kupu dengan sayap depan berbintik - bintik tebal berwarna hitam, di bagian atas berwarna putih tembus pandang. Telur berbentuk oval berwarna kuning pucat dan diletakkan secara berkelompok di permukaan batang atau cabang. Di bagian tubuh ke arah kepala, kepompong berwarna coklat tua, serta di bagian ekor dan perut berwarna coklat muda  (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia 2008).
2.2. Siklus hidup Hama Penggerek Batang  (Zeuzera coffeae)
Imago serangga zeuzera yang aktif pada malam hari (nokturnal) ini bertelur selama 6 sd 8 kali sehari, sedangkan periode bertelurnya berlangsung 5 sd 6 hari. Imago betina dapat memproduksi telur sebanyak 500 sd 1.000 butir selama masa hidupnya. Telur biasanya diletakan di celah kulit-kulit pohon yang membuka. Telur zeuzera dapat diidentifikasi dari dimensinya yakni panjang 1 mm, lebar 0,5 mm, dan berwarna kuning kemerah-merahan.
Telur biasanya menetas menjadi ulat penggerek batang setelah10 sd 11 hari setelah diletakan. Ulat berwarna merah cerah dengan panjang 3 sd 5 mm. Ulat tersebut dapat menggerek cabang bahkan batang tanaman dan menyebabkan cabang atau batang yang terserang menjadi kopong dan menyisakan sedikit lapisan xilem dan floemnya saja. Ulat tersebut sering berpindah dari satu lubang gerekan ke bagian cabang atau batang lainnya untuk membuat gerekan baru. Liang gerekan dibuat umumnya sedalam 40 sd 50 cm dengan diameter liang sekitar 1 sd 1,2 cm.  Tiap liang gerekan umumnya ditinggali oleh satu ekor ulat saja.
Ulat bermetamorfosis menjadi kepompong umumnya pada usia 81 sd 151 hari setelah ditetaskan. Ulat berkepompong di dalam kamar kepompong yang panjangnya 7 sd 12 cm yang dibuat dalam liang gerekan. Liang gerekan ketim ulat tengah berada pada fase kepompong umumnya ditutup bagian atas dan bawahnya menggunakan kotoran atau sisa gerekan.
Kepompong menjadi ngengat (imago) setelah 21 sd 30 hari setelah dimulainya fase kepompong. Untuk menjadi ngengat jantan, lama stadium kepompong memerlukan waktu 27 sd 30 hari, sedangkan untuk menjadi ngengat betika memerlukan waktu 21 sd 23 hari. Imago keluar dari liang gerekan dan kamar kepompong dengan meninggalkan kulit kepompong pada liang gerekan. Imago ini kemudian meneruskan siklus hidupnya dengan meletakan telurnya pada tanaman kakao lainnya. Hama ini juga dapat menginang pada beberapa tanaman selain kakao, seperti bungur, jati, mahoni, randu, jambu biji, kopi, dan kina.

Gamabar 1. Siklus hidup

2.3. Faktor-Faktor yang mempengarui  Gejala Serangan Hama Zeuzera sp
Larva dari serangga ini menggerek cabang-cabang tanaman kakao yang bergaris tengah sekitar 3-5 cm. Larva penggerek menyerang cabang tanaman kakao dengan cara menggerek batang pada kulit sekunder, sehingga cabang bagian atas mati atau mudah patah. Serangan pada cabang muda, pada umumnya hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan sementara. Jika Larva itu telah keluar, batang tersebut tumbuh normal kembali. Serangan hama ini ditandai dengan adanya kotoran yang membentuk silindrik dan berwarna merah sawo matang yang dikeluarkan melalui liang gerek. Akibat dari serangan penggerek ini tanaman kakao kehilangan sebagian dari cabang-cabangnya yang produktif. Bahkan jika menyerang batang utama yang masih muda dapat mematikan tanaman budidaya (Sunanto, 2000).
Pada stadia larva dapat menyebabkan serangan penggerek batang merah. Hama Larva ini merusak bagian batang dengan cara menggerek menuju empelur (xylem) batang atau cabang. Menyerang tanaman muda. Pada permukaan batang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan serpihan jaringan. Bila cabang terserang dipotong dan dibelah, akan Nampak lubang gerekan masuk melintang cabang, kemudian membelok kea rah pucuk membentuk terowongan-gerekan yang panjang. Akibat serangan larva penggerek batang merah ini, bagian tanaman di atas lubang gerekan akan merana, layu, kering, dan mati, sehingga menyebabkan distribusi hara dan air terganggu (Ratmawati, 2002). 
Serangan Zeuzera sp. Menyebabkan daun mengalami nekrosis dan pucuk pada tanaman dewasa akan mati. Serangannya terutama pada cabang-cabang muda yang lembek, misalnya di sudut tangkai daun. Larva Zeuzera sp. Akan melubangi kulit kayu kemudian Larva masuk kedalamnya dan merusak berkas pembuluhnya. Larva ini dikayu mampu menggerek sampai dengan 9-30 cm dan mengeluarkan sisa gerekan berupa serbuk kayu bercampur lender. Cabang yang diserang mengalami kekeringan dan lentiselnya akan membesar sehingga akhirnya kulit kayunya retak dan pecah (Siregar, 2000).

Pengendalian Hama Zeuzera sp
-          Secara Mekanis
Batang tanaman kakao yang terserang dipotong 10 cm dibawah lubang gerak kearah pangkal batang kemudian batang dibakar diluar kebun (Hidayat, 2008). Pengendalian dapat juga dilakukan dengan cara menyumbat liang-liang gerek dengan kapas yang telah dicelupkan dalam insektisida (Sunanto, 2000)
-          Biologis
Dengan musuh alami sejenis parasitoid : Bracon zeuzerae, Isosturmia chatterjeena dan Carceria kockiana. Selain dengan musuh alami, hama ini dapat juga dikendalikan dengan jamur phatogen serangga Beuveria bossiana (Ratmawati, 2000)
-          Kultur Teknis
Pembersihan merupakan cara bercocok tanam yang paling tua dan cukup efektif untuk menurunkan populasi hama. Banyak hama yang dapat bertahan hidup atau berdiapause di sisa-sisa tanaman. Dengan mebersihkan sisa-sisa tanaman tersebut berarti kita mengurangi laju peningkatan populasi dan ketahanan hidup hama. Pada prinsipnya teknik sanitasi adalah membersihka lahan dari jenis-jenis tanaman singgang, tunggul tanaman, atau bagian-bagian tanaman berbeda (Untung, 1996).
-          Kimiawi
Faktor pengendalian ini digunakan apabila kerusakan yang disebabkan oleh serangga hama sudah melewati garis Normal. Menutup lubang gerekan hama dengan kapas yang telah diberi aturan Insektisida. Menginfus tanaman dengan insektisida sistemik, baik melalui batang maupun ujung akar (Ratmawati, 2002).


PERMASALAHAN
Larva penggerek menyerang cabang tanaman kakao dengan cara menggerek batang pada kulit sekunder, sehingga cabang bagian atas mati atau mudah patah. Serangan pada cabang muda, pada umumnya hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan sementara Akibat dari serangan penggerek ini tanaman kakao kehilangan sebagian dari cabang-cabangnya yang produktif. Bahkan jika menyerang batang utama yang masih muda dapat mematikan tanaman budidaya.
Pada stadia larva dapat menyebabkan serangan penggerek batang merah. Hama Larva ini merusak bagian batang dengan cara menggerek menuju empelur (xylem) batang atau cabang. Menyerang tanaman muda. Bila cabang terserang dipotong dan dibelah, akan Nampak lubang gerekan masuk melintang cabang, kemudian membelok kea rah pucuk membentuk terowongan-gerekan yang panjang. Akibat serangan larva penggerek batang merah ini, bagian tanaman di atas lubang gerekan akan merana, layu, kering, dan mati, sehingga menyebabkan distribusi hara dan air terganggu.
Larva Zeuzera sp. Akan melubangi kulit kayu kemudian Larva masuk kedalamnya dan merusak berkas pembuluhnya. Larva ini dikayu mampu menggerek sampai dengan 9-30 cm dan mengeluarkan sisa gerekan berupa serbuk kayu bercampur lender.
Akibat serangan larva penggerek batang merah ini, bagian tanaman di atas lubang gerekan akan merana, layu, kering, dan mati, sehingga menyebabkan distribusi hara dan air terganggu.




BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    HASIL.
Gambar 2.  Kerusakan pada Tanaman yang disebabkan oleh Penggerek Batang      (Zeuzera coffeae).
Gambar 3.Cara mengendalikan Hama penggerek batang kakao








B.     PEMBAHASAN.
    Akibat dari serangan penggerek ini tanaman kakao kehilangan sebagian dari cabang-cabangnya yang produktif. Bahkan jika menyerang batang utama yang masih muda dapat mematikan tanaman budidaya. Hal ini sesuai dengan Sunanto (2002) yang menyatakan bahwa serangan pada cabang muda, pada umumnya hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan sementara. Jika Larva itu telah keluar, batang tersebut tumbuh normal kembali. Serangan hama ini ditandai dengan adanya kotoran yang membentuk silindrik dan berwarna merah sawo matang yang dikeluarkan melalui liang gerek. Akibat dari serangan penggerek ini tanaman kakao kehilangan sebagian dari cabang-cabangnya yang produktif. Bahkan jika menyerang batang utama yang masih muda dapat mematikan tanaman budidaya.
Pada permukaan batang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan serpihan jaringan. Bila cabang terserang dipotong dan dibelah, akan Nampak lubang gerekan masuk melintang cabang, kemudian membelok kea rah pucuk membentuk terowongan-gerekan yang panjang. Hal ini seusai dengan Ratmawati (2002) yang menyatakan bahwa Larva penggerek menyerang cabang tanaman kakao dengan cara menggerek batang pada kulit sekunder, sehingga cabang bagian atas mati atau mudah patah. Serangan pada cabang muda, pada umumnya hanya menyebabkan hambatan pertumbuhan sementara. Jika Larva itu telah keluar, batang tersebut tumbuh normal kembali. Serangan hama ini ditandai dengan adanya kotoran yang membentuk silindrik dan berwarna merah sawo matang yang dikeluarkan melalui liang gerek.
Larva ini dikayu mampu menggerek sampai dengan 9-30 cm dan mengeluarkan sisa gerekan berupa serbuk kayu bercampur lender. Cabang yang diserang mengalami kekeringan dan lentiselnya akan membesar sehingga akhirnya kulit kayunya retak dan pecah hal ini sesuai dengan Siregar (2000) yang menyatakan bahwa Larva  Zeuzera sp. Akan melubangi kulit kayu kemudian Larva masuk kedalamnya dan merusak berkas pembuluhnya. Larva ini dikayu mampu menggerek sampai dengan 9-30 cm dan mengeluarkan sisa gerekan berupa serbuk kayu bercampur lender. Cabang yang diserang mengalami kekeringan dan lentiselnya akan membesar sehingga akhirnya kulit kayunya retak dan pecah.
Batang tanaman kakao yang terserang dipotong 10 cm dibawah lubang gerak kearah pangkal batang kemudian batang dibakar diluar kebun. Hal ini sesuai dengan Hidayat (2008) yang menyatakan bahwa Batang tanaman kakao yang terserang.


BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1.      Akibat dari serangan penggerek ini tanaman kakao kehilangan sebagian dari      cabang-cabangnya yang produktif.
2.      Larva Zeuzera sp. Akan melubangi kulit kayu kemudian Larva masuk kedalamnya dan merusak berkas pembuluhnya.
3.      Pada permukaan batang yang baru digerek sering terdapat campuran kotoran dengan serpihan jaringan.
4.      Larva ini dikayu mampu menggerek sampai dengan 9-30 cm dan mengeluarkan sisa gerekan berupa serbuk kayu bercampur lender.
5.      Faktor pengendalian Secara Kimiawi digunakan apabila kerusakan yang disebabkan  oleh serangga hama sudah melewati garis Normal.

B. Saran

1.    Z. coffeae  dapat merusak batang atau cabang  tanaman kakao pada stadia larva. Oleh karena itu pengendalian terhadap Z. coffeae  sebaiknya dilakukan pada stadia larva.
2.    Sebaiknya Perlu di adakan praktikum laangan,agar mahasiswa/i dapat mengetahui dan memahami siklus Hidup Hama Z coffeae dan juga mengetahui cara mengendalikan baik secara Fisik,kimia,Kimia maupun Hayati





DAFTAR PUSTAKA
Andriani 1998.  Pengenalan dan Pengendalian Hama-Penyakit Tanaman Kakao. Pusat    Penelitian Kopi dan Kakao. Jember: Pustaka utama

    Haneda, N.F. dan Prat, A.W. 1999. Sudi Mekanisme Toleransi Leda     (Eucalyptus deglupta Blumeb) Terhadap Hama Penggerek Batang (Zeuzera coffeae) untuk Menunjang Pemuliaan Jenis. Diakses dari http://repository.its.ac.id/  pada tanggal 21 Mei 2012 Pukul 22.00 wib

   Hidayat, H. 2008. Hama Penggerek Batang Tanaman Kakao.2008. Balai Besar Penelitian Tanaman Perkebunan. Kalimantan. Diakses dari http://www.deptan.go.id/ pada tanggal 20 Mei 2012 pukul 17.30 wib

    http://www.deptan.go.id/. 2002. Musuh Alami, Hama dan Penyakit Tanaman Kakao [Edisi Kedua]. Proyek Pengendalian Hama Terpadu Perkebunan Rakyat, Direktorat Jendral Perkebunan. Jakarta.

Nasriaty ; Firdausil, A.B. ; dan Yani, A. 2008. Teknologi Budidaya Kakao. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Balitbang Peranian. Jakarta. http://www.deptan.go.id/ diakses pada tanggal 19 Mei 2012 pukul 14.30 wib

Oktaviani, W. 2008. Peningkatan Produksi Buah Kakao (Theobroma cacao L.) Melalui Pemberian Zat Pengatur Tumbuh Paclobutrazol pada Berbagai Konsentrasi. Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor.

Ratmawati, I. 2002. Penggerek Batang Merah (Zeuzera coffeae)  pada Tanaman Kopi. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya. Diakses dari http://repository.its.ac.id/ pada tanggal 19 Mei 2012 pukul 21.30

Santoso, B. 2007. Mekanisme Budidaya Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) pada Lahan eks PT Perkebunan Nusantara XI dengan Teknik Tumpang Sari. diakses dari http://repository.its.ac.id/ pada tanggal 21 Mei 2012 Pukul 19.30 wib

, E. 2005. Pengembangan Budidaya Kakao dan Pengolahan Kakao. diakses http://www.scribd.bertanamkakao/0r994889 pada tanggal 19 Mei 2012 pukul 18.20 wib

Sunanto, H. 2002. Cokelat, Budidaya, Pengolahan Hasil Studi dan Aspek Ekonominya. Penerbit Kanisius. Jakarta.


Untung, K. 1996. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University.    Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar